#copas
Tue, 7 Nov 2017 5:36 am
*Mencium Anak, Sunnah Nabi SAW*

“Perbanyaklah kamu mencium anak cucumu karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga.” (HR. Bukhari)"
      
*4 Anggota Tubuh Anak Yang Perlu Dicium Orangtua Setiap Hari*

Mari lahirkan rasa kasih dalam diri anak-anak melalui sifat orang tua yang penyayang. 

Berikut ini adalah saran kami sebagai psikolog Islam yang sebaiknya diamalkan setiap hari terhadap anak-anak.

*CIUMAN KASIH SAYANG*

1. *Di ubun-ubun*, 
menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak sambil didoakan agar menjadi anak soleh/sholehah, aamiin.

2. *Di dahi*, 
menandakan orangtua redha atas keberadaan anak. 
Rasulullah s.a.w mencium Fatimah radiallahu anha di dahinya.

3. Di *kedua pipi*
sambil mengucap masya Allah, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) orangtua terhadap anak.

4. *Di tangan anak*, 
tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang) sambil mengucap _barakallah_, sebagaimana Rasulullah s.a.w juga selalu mencium tangan putri tercinta : Fatimah r.a.

*SENTUHAN SAYANG*

1. *Menggosok belakang kepala anak*, sebagai tanda kasih sayang dan perlindungan.

2. *Menggosok atas kepala atau ubun-ubun*, menunjukkan kebanggaan orangtua terhadap anak.

3. *Mengusap dahi*, sebagai tanda _syauq_ (perasaan sayang dan rindu) terhadap anak.

4. *Kedua pipi*, juga tanda _mawaddah wa hubb_ (kasih sayang)

5. *Memegang kedua tangan*, untuk menenangkan anak ketika perasaannya tampak kacau atau bingung.

*Perhatian* :
Usaplah dada anak sambil istighfar saat ia menunjukkan kecenderungan berbuat salah atau sedang marah, untuk menenangkannya.

Lakukan tindakan mawaddah warohmah ini diiringi kalimat2 thoyyibah.

*SUDAH KAH KITA CIUM ANANDA HARI INI?*

#insaALLAH niat amal dan sampaikan 😍😘😚
#nice #copas
Tue, 15 Nov 2016 6:15 am
Copas dari dokter.... *🐔 AYAM POTONG (BROILER) 🐔* _*Sayap, ceker dan kepala sampai leher ayam potong atau broiler..*_ 🍀🍀 Ayam, bila diolah sangat lezat bukan..?"  Entah Anda sudah menikah atau belum, maka wanita harus berhati-hati.. 🍀🍀 Baru-baru ini telah terjadi pada seorang wanita Indonesia (tidak usah disebut identitas-nya), tumbuh "lists" dalam rahim (kista coklat), melakukan operasi tumor yang penuh dengan darah, dan darahnya berwarna hitam gelap.. 🍀🍀 Mereka berpikir, bahwa setelah operasi akan sembuh, tetapi hanya beberapa bulan kambuh lagi, sehingga akhirnya mereka melakukan konsultasi ke ginekolog.. 🍀🍀 Dokter Ginekolog tersebut kemudian bertanya : "Apakah Anda suka makan sayap ayam, leher ayam dan ceker ayam..?" 🍀🍀 Wanita itu sangat terkejut..? Lalu bertanya : "Loh, kok dokter bisa tahu kesukaanku..?" 🍀🍀 Dokter : "Hormon pertumbuhan (growth-hormone) ayam ataupun antibiotiknya, selalu diinjeksi di bagian sayap, atau leher ayam.. Sementara kaki ayam tempat menimbun end product antibiotik dan turunan second hormonal.. 🍀🍀 Dokter tersebut meneruskan : "Karena itu kegemaran makan sayap ayam atau kaki, akan serta merta menambah sekresi hormon bagi wanita.. Akibatnya second hormonal tersebut akan terakumulasi menjadi toxin yang ujung-ujungnya menjadi karsinogen, sehingga wanita peng-konsumsi sayap, kaki dan leher ayam, sangat rentan terkena kanker yang berkenaan dengan kelenjar hormonal seperti : kanker rahim, cervix dan payudara.. 🍀🍀 Oleh karena itu, kami menyarankan Anda jangan banyak mengkonsumsi sayap ayam atau kakinya.. Saat ini 80% wanita memiliki fibroid/rahim dan mudah untuk mendapatkan kista coklat tersebut.." 🍀🍀 _*SEHAT ITU TAK TERNILAI..*_ 🍀🍀 Ketika Anda melihat pesan ini, apa yang akan Anda lakukan..? 🍀🍀 Meneruskannya kepada teman dan keluarga di sekitar (terutama teman-teman perempuan).. Atau mengabaikan dan skeptis..? 🍀🍀 Ekspektasi saya : Jika di friend-list anda ada ribuan teman, cukup 10 orang saja yang men-share ulang, sehingga minimal juga ada 10 orang yang baca.. Siapa tahu di kelipatan ke sekian kalinya, ada yang tertolong..? Karena Anda peduli.. Indahnya berbagi.. 🍀🍀 Salam.. dr. Rosdiana Ramli, SpOG 🌿🌿🍁🌿🌿🍁🌿🌿 #copas
Sat, 12 Nov 2016 5:23 am
✅ * Parenting Fitrah Sexualitas anak... * *Euis Kurniawati* Masih terngiang2 kata bapak baik hati yg mengantar kami ke stasiun tawang tempo hari... "Mumpung anak masih kecil, jangan sampai salah seperti saya ya. Anak pertama usia 22 thn hafal 18 juz. Anak kedua dan ketiga semua hafidz dan hafidzah. Tuntas 30 juz. Tapi ... saya sedih karena untuk sholat saja mereka masih diingatkan dan disuruh. Saya menangis saat saya baru sadar bahwa ada yg terlewat kala itu. *** Fitrah keimanan (dibahas saat workshop) yg harusnya ditanam di 7 tahun pertama hidupnya ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus "restart" dari awal untuk mengulang proses yg terlewat". Hmm,,, Jazakumullah khairan katsira nasehat berharganya pak,,, Satu hal lagi yg saya dapat saat mengikuti worshop home education based fitrah and tallent di Semarang bbrp waktu lalu bersama ust Harry. _*Didiklah anak sesuai fitrah*_ Fitrah apa? Ada bbrp fitrah. _Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas_. Fitrah seksualitas? Wow, , , gimana itu? *** Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya. Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan. Jika ia laki2, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki2. Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ? Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya. *** *Usia 0 - 2 tahun* _Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya._ Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun. Menyusui, bukan memberi asi. Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp. *** *Usia 3 - 6 tahun* _Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya._ Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya. Perbanyak aktivitas bersama. *** *Usia 7 - 10 tahun* _Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya. ⋅_ Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya. Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya. Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb. Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya. Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya. Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb. *** Usia 11 - 14 tahun _Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan._ Lintas gender. Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya. Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya. * Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain. Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada. Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata. Logis juga sih. Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya. Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah. Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya. Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan. Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana? Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan. Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti. Bisa kakek, atau paman. Sama dengan rasulullah. Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu. Ada kakek dan pamannya. Ada nenek, bibi dan ibu susunya. *** _Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh._ Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi. Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita. Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2, karna kita hanya punya waktu 14thn saja. Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman2. Moga allah mampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan.. Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga. Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia ya.. #pentingnya_kurikulum #janganburu2 ¥ #homebased_education #home_education_based_akhlak_and_talent [⋅} #copas #nice
Tue, 3 Feb 2015 5:47 pm
Jangan Tenangkan Anak Rewel dengan "Gadget"

KOMPAS.com - Anak-anak masa kini memang akrab dengan gadget. Walau teknologi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia, tetapi sebaiknya jangan biarkan anak terlalu terikat dengan gadget. 

Ancaman terbesar dari anak-anak yang terlanjur akrab dengan gadget bukan hanya kecanduan, tapi juga buruk bagi perkembangan emosionalnya. Hal ini terutama jika orangtua menjadikan gadget sebagai "mainan" untuk menenangkan anak yang sedang rewel atau tantrum.

Meskipun e-book dan beragam aplikasi yang terdapat dalam gadget dapat memberikan manfaat, tapi sebenarnya aplikasi tersebut sia-sia jika diberikan pada anak di bawah umur dua tahun, dan akan efektif bila digunakan dengan pendampingan. 

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa anak-anak di bawah usia 30 bulan, tidak bisa belajar dari televisi, video, ataupun dunia maya sebaik interaksi mereka dengan kehidupan nyata dan lingkungan sekitarnya. 

Bayi dan balita sesungguhnya belajar banyak melalui sentuhan dan pengalaman yang mereka jumpai setiap harinya.

Dr Jenny Radesky dari Boston University School of Medicine mengatakan, penggunaan gadget pada balita saat ini semakin intensif akan memberikan dampak pada perkembangan perilaku anak. 

"Kita belum tahu dengan baik apakah ada efek dari gadget pada tumbuh kembang anak. Penggunaan gadget juga telah mengurangi dan menggantikan jumlah waktu tatap muka langsung antar manusia," katanya.

Telah dipelajari dengan baik bahwa kebiasaan menonton televisi dalam waktu yang lama akan menurunkan perkembangan anak, baik secara keterampilan bahasa maupun keterampilan sosialnya.

Penggunaan gadget yang berlebihan di usia dini bisa mengganggu perkembangan keterampilan berempati, sosial dan pemecahan masalah yang biasanya diperoleh anak dengan menjelajahi, bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya.

Gadget yang beredar saat ini juga telah menggantikan peran anggota tubuh dalam melakukan fungsinya, terutama dalam pengembangan sensori dan visual motorik. Padahal keduanya penting untuk menunjang proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

"Jika perangkat gadget ini menjadi cara utama untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian anak, apakah mereka kelak akan mampu mengembangkan keterampilan pengendalian diri mereka sendiri?" katanya.

Orangtua juga sebaiknya mencoba setiap aplikasi yang ada sebelum mengizinkan anak-anak mereka mengaksesnya lebih lanjut. Selain itu, dianjurkan untuk menggunakan aplikasi tersebut bersama-sama dengan anak.  (Monica Erisanti)
#kompas #copas